Selasa, 22 Oktober 2013

Kerinduan



Butir-butir cinta bertebaran dalam jiwa
Terasa indah bagai yaman surga
Lukisan cinta bagai mutiara
Akan selalu indah dalam menyerta

Bagai penguat antara dua hati
Yang keduanya saling mencintai
bagai sang pangeran dan puteri
Yang cintanya selalu abadi

Hai cowok tambatan hatiku
Temanilah selalu hari-hariku
Hadirlah selalu dalam pejamku
Karna hati ini masih merindu

Senin, 21 Oktober 2013

Perilaku Etika dalam Bisnis

A.    Lingkungan Bisnis yang Mempengaruhi Perilaku Etika
Etika bisnis merupakan cara untuk melakukan kegiatan bisnis, yang mencakup seluruh aspek yang berkaitan dengan individu,perusahaan dan juga masyarakat. Tujuan dari sebuah bisnis yaitu dapat tumbuh berkembang dan menghasilkan keuntungan yang berupa uang. Etika Bisnis dapat menjadi standar dan pedoman bagi seluruh karyawan termasuk manajemen dan menjadikannya sebagai pedoman untuk melaksanakan pekerjaan sehari-hari dengan dilandasi moral yang luhur, jujur, transparan dan sikap yang profesional. Pemilik usaha perlu menyadari faktor-faktor dan untuk melihat perubahan perilaku karyawan yang dapat sinyal masalah, diantaranya yaitu :
a.       Budaya Organisasi
Budaya organisasi mencakup bagaimana sikap manajemen terhadap karyawannya, rencana pertumbuhan perusahaan dan otonomi/pemberdayaan yang diberikan kepada karyawan. Budaya organisasi memiliki dampak positif dan negatif, dampak positifnya yaitu dapat membatu karyawan menjadi lebih produktif dan bahagia. Sedangkan dampak negative yaitu dapat menyebabkan ketidakpuasan karyawan,absen dan bahkan pencurian atau vandalisme.
b.      Ekonomi Lokal
Melihat seorang karyawan dari pekerjaannya dipengaruhi oleh keadaan perekonomian setempat. Jika pekerjaan yang banyak dan ekonomi booming, karyawan secara keseluruhan lebih bahagia dan perilaku mereka dan kinerja cermin itu. Di sisi lain, saat-saat yang sulit dan pengangguran yang tinggi, karyawan dapat menjadi takut dan cemas tentang memegang pekerjaan mereka.
c.       Reputasi Perusahaan dalam Komunitas
Persepsi karyawan tentang bagaimana perusahaan mereka dilihat oleh masyarakat lokal dapat mempengaruhi perilaku. Jika seorang karyawan menyadari bahwa perusahaannya dianggap curang atau murah, tindakannya mungkin juga seperti itu. Namun, jika perusahaan dipandang sebagai pilar masyarakat dengan banyak goodwill, karyawan lebih cenderung untuk menunjukkan perilaku serupa karena pelanggan dan pemasok berharap bahwa dari mereka.
d.      Persaingan di Industri
Tingkat daya saing dalam suatu industri dapat berdampak etika dari kedua manajemen dan karyawan, terutama dalam situasi di mana kompensasi didasarkan pada pendapatan. Dalam lingkungan yang sangat kompetitif, perilaku etis terhadap pelanggan dan pemasok dapat menyelinap ke bawah sebagai karyawan berebut untuk membawa lebih banyak pekerjaan. Dalam industri yang stabil di mana menarik pelanggan baru tidak masalah, karyawan tidak termotivasi untuk meletakkan etika internal mereka menyisihkan untuk mengejar uang.

B.     Kesaling-tergantungan Antara Bisnis dan Masyarakat
Kesalingtergantungan bekerja didasarkan pada relasi kesetaraan, egalitarianisme. Manusia bekerjasama, bergotong-royong dengan sesamanya  memegang prinsip kesetaraan. Dalam masyarakat yang semakin maju, organisasi harus dikelola secara efektif dan efisien. Dalam perkembangan selanjutnya bisnis tidak hanya menjaga tingkat keuntungan tertentu melainkan juga berkepentingan untuk menjaga kelangsungan hidup sumber daya alam dan lingkungan sosial.
Lingkungan bisnis memiliki ketergantungan yang kuat dengan fenomena kehidupan ekonomi anggota masyarakat yang lainnya, karena itulah bisniis mempunyai kepentingan untuk mengelola pihak-pihak yang berasal dari latar belakang. Perusahaan tidak hanya berhubungan dengan masyarakat melalui berbagai kebijakan, pada tingkat tertentu perusahaan juga berhubungan dengan masyarakat melalui aktivitas-aktivitas yang secara tidak langsung berhubungan dengan tindakan-tindakan untuk mencapai tujuan dan misi.

C.     Kepedulian Pelaku Bisnis terhadap Etika
Korupsi, kolusi, dan nepotisme yang semakin  meluas di masyarakat yang sebelumnya hanya di tingkat pusat dan sekarang meluas sampai ke daerah-daerah, yang merupakan bentuk moral hazard di kalangan elit politik dan elit birokrasi. Hal ini  mengindikasikan bahwa di sebagian masyarakat kita telah terjadi krisis moral dengan menghalalkan segala mecam cara untuk mencapai tujuan, baik tujuan individu  memperkaya diri sendiri maupun tujuan kelompok untuk eksistensi keberlanjutan  kelompok. Dalam kaitan dengan etika bisnis,sering kali terdapat perbedaan cara pengimplementasian bisnis oleh setiap pelaku usaha itu sendiri. Beberapa pelaku usaha memang sudah ada yang mampu menerapkan etika bisnis tersebut. Namun, karena pemahaman dari masing-masing pelaku usaha mengenai etika bisnis berbeda-beda selama ini, maka implementasinyapun berbeda pula, Keberadaan etika dan moral pada diri seseorang atau sekelompok orang sangat tergantung pada kualitas sistem kemasyarakatan yang melingkupinya. Walaupun seseorang atau sekelompok orang dapat mencoba mengendalikan kualitas etika dan moral mereka, tetapi sebagai sebuah variabel yang sangat rentan  terhadap pengaruh kualitas sistem kemasyarakatan, kualitas etika dan moral  seseorang atau sekelompok orang sewaktu-waktu dapat berubah. Akibatnya para pebisnis di Indonesia tidak dapat lagi  membedakan antara batas wilayah etika dan moral dengan wilayah hukum.

D.    Perkembangan dalam Etika Bisnis
Masa etika bisnis menjadi fenomena global pada tahun 1990-an, etika bisnis telah menjadi fenomena global dan telah bersifat nasional, internasional dan global seperti bisnis itu sendiri. Etika bisnis telah hadir di Amerika Latin , ASIA, Eropa Timur dan kawasan dunia lainnya. Di Jepang yang aktif melakukan kajian etika bisnis adalah institute of moralogy pada universitas Reitaku di Kashiwa-Shi. Di india etika bisnis dipraktekan oleh manajemen center of human values yang didirikan oleh dewan direksi dari indian institute of manajemen di Kalkutta tahun 1992. Di indonesia sendiri pada beberape perguruan tinggi terutama pada program pascasarjana telah diajarkan mata kuliah etika isnis. Selain itu bermunculan pula organisasi-organisasi yang melakukan pengkajian khusus tentang etika bisnis misalnya lembaga studi dan pengembangan etika usaha indonesia (LSPEU Indonesia) di jakarta.

E.     Etika Bisnis dan Akuntan
Dalam menjalankan profesinya seorang akuntan di Indonesia diatur oleh suatu kode etik profesi dengan nama kode etik Ikatan Akuntan Indonesia. Kode etik Ikatan Akuntan Indonesia merupakan tatanan etika dan prinsip moral yang memberikan pedoman kepada akuntan untuk berhubungan dengan klien, sesama anggota profesi dan juga dengan masyarakat. Selain dengan kode etik akuntan juga merupakan alat atau sarana untuk klien, pemakai laporan keuangan atau masyarakat pada umumnya, tentang kualitas atau mutu jasa yang diberikannya karena melalui serangkaian pertimbangan etika sebagaimana yang diatur dalam kode etik profesi. Akuntansi sebagai profesi memiliki kewajiban untuk mengabaikan kepentingan pribadi dan mengikuti etika profesi yang telah ditetapkan. Kewajiban akuntan sebagai profesional mempunyai tiga kewajiban yaitu; kompetensi, objektif dan mengutamakan integritas. Kasus enron, xerok, merck, vivendi universal dan bebarapa kasus serupa lainnya telah membuktikan bahwa etika sangat diperlukan dalam bisnis. Tanpa etika di dalam bisnis, maka perdaganan tidak akan berfungsi dengan baik. Kita harus mengakui bahwa akuntansi adalah bisnis, dan tanggung jawab utama dari bisnis adalah memaksimalkan keuntungan atau nilai shareholder. Tetapi kalau hal ini dilakukan tanpa memperhatikan etika, maka hasilnya sangat merugikan. Banyak orang yang menjalankan bisnis tetapi tetap berpandangan bahwa, bisnis tidak memerlukan etika.
Sumber :



Sabtu, 19 Oktober 2013

Pendahuluan Etika Sebagai Tinjauan

A.    Pengertian Etika
Etika merupakan hukum orang sosial. Etika merupakan hukum yang mengatur, mengendalikan serta membatasi perilaku manusia. Etika berasal dari bahasa Yunani adalah “Ethos” yang berarti adat istiadar atau kebiasaan yang baik. Etika biasanya berkaitanerat dengan perkataan moral yang merupakan istilah dari bahasa Latin, yaitu“Mos” dan dalam bentuk jamaknya “Mores”, yang berarti juga adat kebiasaan ataucara hidup seseorang dengan melakukan perbuatan yang baik (kesusilaan). Ada beberapa pendapat para ahli tentang etika, yaitu :
  • Dari  sudut pandang Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1988) merumuskan pengertian etika dalam tiga arti sebagai berikut:
Ø  Ilmu tentang apa yang baik dan yang buruk, tentang hak dan kewajiban moral.
Ø  Kumpulan asas atau nilai yang berkenan dengan ahklak.
Ø  Nilai mengenai benar dan salah yang dianut masyarakat.
·         Menurut Drs.O.P. Simorangkir, etika sebagai padangan manusia dalam berprilaku menurut ukuran dan nilai yang baik.
·         Sedangkan menurut Drs. Sidi Gajalba, dalam sistematika filsafat etika adalah teori tentang tingkah laku oerbuatan manusia dipandang dari segi baik dan buruk, sejauh yang dapat ditentukan oleh akal.
·         Menurut Fagothey (1953), etika adalah studi tentang kehendak manusia, yaitu kehendak yang berhubungan dengan keputusan yang benar dan yang salah dalam tindak perbuatannya.
B.     Prinsip-prinsip Etika
Berikut ini adalah prinsip-prinsip etika yang merupakan landasan perilaku etika profesional, yaitu :
a.       Tanggung Jawab
Dalam melaksanakan tanggung jawabnya sebagai profesional dan pertimbangan moral dalam semua aktifitas mereka.
b.      Kepentingan Masyarakat
Akuntan harus menerima kewajiban-kewajiban melakukan tindakan yang mendahulukan kepentingan masyarakat, mengahargai kepercayaan masyarakat dan menunjukkan komitmen pada profesional.
c.       Integritas
Untuk mempertahankan dan memperluas kepercayaan masyarakat, akuntan harus melaksanakan semua tanggung jawab profesional dan integritas.
d.      Objektivitas
Stiap anggota harus menjaga objektivitasnya dan bebas dari benturan kepentungan dalam pemenuhan kewajban profesionalnya.
e.       Kompetensi dan kehati-hatian
Setiap anggota harus melaksanakan jasa profesionalnya dengan kehati-hatian, kompetensi dan ketekunan, serta mempunyai kewajiaban untuk mempertahankan pengetahuan dan keterampilan profesional pada tingkat yang diperlukan.
f.       Perilaku Profesional
Setiap anggota harus berperilaku yang konsisten dengan reputasi profesi yang baik dan menjauhi tindakan yang dapat mendiskreditkan profesi.
g.      Standar Teknis
Setiap anggota harus melaksanakan jasa profesionalnya sesuai dengan standar teknis dan standar profesional yang relevan.

C.    Basis Teori Etika
a.       Etika Teleologi
Berasal dari kata Yunani, yaitu Telos adalah tujuan. Dalam etika teleologi terdapat 2 (dua) aliran, yaitu :
·         Egoisme Etis adalah tindakan dari setiap orang pada dasarnya bertujuan untuk mengejar pribadi dan memajukan dirinya sendiri tanpa memikirkan prang lain.
·         Utilitarianisme brasal dari bahasa latin utilis yang berarti bermanfaat.
b.      Deontologi
Istilah deontologi berasal dari kata Yunani “deon” yang berarti kewajiban. Yang menjadi dasar baik buruknya perbuatan adalah kewajiban.
c.       Teori Hak
Teori hak merupakan suatu aspek dari teori deontologi, karena berkaitan dengan kewajiban. Hak dan kewajiban bagaikan dua sisi uang logam yang sama.
d.      Teori Keutamaan (Virtue)
Keutamaan bisa didefinisikan  sebagai berikut : disposisi watak  yang telah diperoleh  seseorang dan memungkinkan  dia untuk bertingkah laku baik secara moral. Contoh keutamaan :
·         Kebijaksanaan
·         Keadilan
·         Suka bekerja keras
·         Hidup yang baik

D.    Egoism
Egoism tidak cocok dengan kegiatan manusia sebagai makhluk sosial. Egoism tidak mampu memecahkan masalah ketika perselisihan muncul. Terdapat “anomali aneh” dalam egoism (tidak dapat dipublikasikan, diajarkan, dibicarakan dengan terbuka)